Sebentuk wajah yang selalu membuatku merasa bersalah bila kuberbuat lalai-akan selalu tersenyum lebar dengan pelukan hangatnya saat pintu rumahku terbuka, begitu ia menatap wajahku yang menyeruak dibalik kerudung yang kukenakan, dari dekat pun jauh nampak kerinduan kami sebagai seorang ibu dan anak yang dipisahkan oleh jauhnya jarak dan termakan usia.
Bentuk mata dan rahang kami sama, gen yang beliau turunkan kepadaku merupakan anugerah terindah yang pernah kumiliki itu aku syukuri, langkah dan peluh keringat yang membanjiri keningnya demi aku, putri satu-satunya sungguh kukelu bila membuatnya berduka. Bunda, sungguh engkau idola bagiku setelah Rasul dan SahabatNya.
Kau ajarkanku bagaimana menghormati tamu dan tetangga , akhlakmu yang mulia membuatku ingin meneladimu.
Walaupun pepatah bilang “kasih bunda sepanjang jalan, cinta anak sepanjang galah” namun, dalam pandanganku, melihat wanita renta ini hanyalah rindu, kasih, sayang, dan sepenuh cinta. Beberapa helai rambutnya yang telah memutih, wajah keriput dan tulang persendian yang rapuh adalah tugu yang mengokohkannya sebagai wanita perkasa.
Ya, itulah bundaku, seorang ibu yang telah merawat dan mendidikku selama 20 tahun lamanya, spirit terbesar yang membakar jiwaku bila kumalas belajar, sembilah pedang tajam yang menghunjam bila kumelangkah tak jujur, tangan terkuat yang menamparku bila kuberlaku tak amanah. Pengingatku bila kuberkiprah acak adul dan amburadul.
ROBBIGHFIRLII WALIWAALIDAYYA WARHAMHUMAA KAMAA ROBBAYAANII SHOGHIIROO
“ Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah ibuku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil ”
Allohumma Amiin
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar