Kamis, 27 November 2008

Menatap Pagi

Menatap Pagi

Mata kubuka setelah terpejam beberapa lama
Kusingkap kain yang meyelimuti mimpi malamku
Berajak kuraih segel jendela kamar
Didalam kamarku bersemburat cahaya mentariku
Kupuji surya yang tampak merona malu
Kuhirup o2 disela tiupan angin menerpa
Kusapa dunia dengan senyuman riang ilalang
Kupandang lazuardi sejauh mata menembus padang
Kulirik awan yang mengambang sehingga memperhatikanku
Kunikmati kicauan aves yang bertengger didedaunan mahoni
Nampak dari kejauhan aliran menganak sungai pun tanpa menyurutkan langkah dan niat ikan berenang
Heeh,,sampai kapanpun aku akan terpaku
bibirku tersenyum meyakinkan diri bahwa hariku akan seindah pagiku

Kebanggaanku terlahir Olehmu

Sebentuk wajah yang selalu membuatku merasa bersalah bila kuberbuat lalai-akan selalu tersenyum lebar dengan pelukan hangatnya saat pintu rumahku terbuka, begitu ia menatap wajahku yang menyeruak dibalik kerudung yang kukenakan, dari dekat pun jauh nampak kerinduan kami sebagai seorang ibu dan anak yang dipisahkan oleh jauhnya jarak dan termakan usia.
Bentuk mata dan rahang kami sama, gen yang beliau turunkan kepadaku merupakan anugerah terindah yang pernah kumiliki itu aku syukuri, langkah dan peluh keringat yang membanjiri keningnya demi aku, putri satu-satunya sungguh kukelu bila membuatnya berduka. Bunda, sungguh engkau idola bagiku setelah Rasul dan SahabatNya.
Kau ajarkanku bagaimana menghormati tamu dan tetangga , akhlakmu yang mulia membuatku ingin meneladimu.
Walaupun pepatah bilang “kasih bunda sepanjang jalan, cinta anak sepanjang galah” namun, dalam pandanganku, melihat wanita renta ini hanyalah rindu, kasih, sayang, dan sepenuh cinta. Beberapa helai rambutnya yang telah memutih, wajah keriput dan tulang persendian yang rapuh adalah tugu yang mengokohkannya sebagai wanita perkasa.
Ya, itulah bundaku, seorang ibu yang telah merawat dan mendidikku selama 20 tahun lamanya, spirit terbesar yang membakar jiwaku bila kumalas belajar, sembilah pedang tajam yang menghunjam bila kumelangkah tak jujur, tangan terkuat yang menamparku bila kuberlaku tak amanah. Pengingatku bila kuberkiprah acak adul dan amburadul.
ROBBIGHFIRLII WALIWAALIDAYYA WARHAMHUMAA KAMAA ROBBAYAANII SHOGHIIROO
“ Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah ibuku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil ”
Allohumma Amiin

Minggu, 23 November 2008

MEDIA PEMBELAJARAN


A. Media Pembelajaran

ImagePengertian media mengarah pada sesuatu yang mengantar/meneruskan informasi (pesan) antara sumber (pemberi pesan) dan penerima pesan. Media adalah segala bentuk dan saluran yang dapat digunakan dalam suatu proses penyajian informasi (AECT Task Force,1977:162) ( dalam Latuheru,1988:11). Robert Heinich dkk (1985:6) mengemukakan definisi medium sebagai sesuatu yang membawa informasi antara sumber (source) dan penerima (receiver) informasi. Masih dari sudut pandang yang sama, Kemp dan Dayton (1985:3), mengemukakan bahwa peran media dalam proses komunikasi adalah sebagai alat pengirim (transfer) yang mentransmisikan pesan dari pengirim (sander) kepada penerima pesan atau informasi (receiver).

Jerold Kemp (1986) dalam Pribadi (2004:1.4) mengemukakan beberapa faktor yang merupakan karakteristik dari media, antara lain :


a. kemampuan dalam menyajikan gambar (presentation)

b. faktor ukuran (size); besar atau kecil

c. faktor warna (color): hitam putih atau berwarna

d. faktor gerak: diam atau bergerak

e. faktor bahasa: tertulis atau lisan

f. faktor keterkaitan antara gambar dan suara: gambar saja, suara saja, atau gabungan antara gambar dan suara.

Selain itu, Jerold Kemp dan Diane K. Dayton (dalam Pribadi,2004:1.5) mengemukakan klasifikasi jenis media sebagai berikut :

a. media cetak

b. media yang dipamerkan (displayed media)

c. overhead transparancy

d. rekaman suara

e. slide suara dan film strip

f. presentasi multi gambar

g. video dan film

h. pembelajaran berbasis komputer (computer based learning)

Istilah media disini dilihat dari segi penggunaan, serta faedah dan fungsi khusus dalam kegiatan/proses belajar mengajar, maka yang digunakan adalah media pembelajaran. Media pembelajaran adalah semua alat (bantu) atau benda yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar, dengan maksud untuk menyampaikan pesan (informasi) pembelajaran dari sumber (guru maupun sumber lain) kepada penerima (dalam hal ini anak didik ataupun warga belajar). Pesan (informasi) yang disampaikan melalui media, dalam bentuk isi atau materi pengajaran itu harus dapat diterima oleh penerima pesan (anak didik), dengan menggunakan salah satu ataupun gabungan beberapa alat indera mereka. Bahkan lebih baik lagi bila seluruh alat indera yang dimiliki mampu dapat menerima isi pesan yang disampaikan (Latuheru,1988:13).

Pada umumnya keberadaan media muncul karena keterbatasan kata-kata, waktu, ruang, dan ukuran. Ditambahkan juga bahwa media pembelajaran berfungsi sebagai sarana yang mampu menyampaikan pesan sekaligus mempermudah penerima pesan dalam memahami isi pesan.

Dari beberapa penjelasan media pembelajaran di atas, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah suatu alat, bahan ataupun berbagai macam komponen yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar untuk menyampaikan pesan dari pemberi pesan kepada penerima pesan untuk memudahkan penerima pesan menerima suatu konsep.

B. Fungsi dan Peranan Media Pembelajaran

Kehadiran media pembelajaran sebagai media antara guru sebagai pengirim informasi dan penerima informasi harus komunikatif, khususnya untuk obyek secara visualisasi. Dalam pembelajaran ilmu pengetahuan alam, khusunya konsep yang berkaitan dengan alam semesta lebih banyak menonjol visualnya, sehingga apabila seseorang hanya mengetahui kata yang mewakili suatu obyek, tetapi tidak mengetahui obyeknya disebut verbalisme. Masing-masing media mempunyai keistimewaan menurut karakteristik siswa. Pemilihan media yang sesuai dengan karakteristik siswa akan lebih membantu keberhasilan pengajar dalam pembelajaran. Secara rinci fungsi media memungkinkan siswa menyaksikan obyek yang ada tetapi sulit untuk dilihat dengan kasat mata melalui perantaraan gambar, potret, slide, dan sejenisnya mengakibatkan siswa memperoleh gambaran yang nyata (Degeng,1999:19).

Menurut Gerlach dan Ely (dalam Arsyad,2002:11) ciri media pendidikan yang layak digunakan dalam pembelajaran adalah sebagai berikut :

1. Fiksatif (fixative property)

Media pembelajaran mempunyai kemampuan untuk merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa/objek.

2. Manipulatif (manipulatif property)

Kejadian yang memakan waktu berhari-hari dapat disajikan kepada siswa dalam waktu dua atau tiga menit dengan teknik pengambilan gambar time-lapse recording.

3. Distributif (distributive property)

Memungkinkan berbagai objek ditransportasikan melalui suatu tampilan yang terintegrasi dan secara bersamaan objek dapat menggambarkan kondisi yang sama pada siswa dengan stimulus pengalaman yang relatif sama tentang kejadian itu.

Dari penjelasan diatas, disimpulkan bahwa fungsi dari media pembelajaran yaitu media yang mampu menampilkan serangkaian peristiwa secara nyata terjadi dalam waktu lama dan dapat disajikan dalam waktu singkat dan suatu peristiwa yang digambarkan harus mampu mentransfer keadaan sebenarnya, sehingga tidak menimbulkan adanya verbalisme.

Proses belajar mengajar dapat berhasil dengan baik jika siswa berinteraksi dengan semua alat inderanya. Guru berupaya menampilkan rangsangan (stimulus) yang dapat diproses dengan berbagai indera. Semakin banyak alat indera yang digunakan untuk menerima dan mengolah informasi, semakin besar pula kemungkinan informasi tersebut dimengerti dan dapat dipertahankan dalam ingatan siswa. Siswa diharapkan akan dapat menerima dan menyerap dengan mudah dan baik pesan-pesan dalam materi yang disajikan.

Keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar mengajar sangat penting, karena seperti yang dikemukakan oleh Edgar Dale (dalam Sadiman, dkk,2003:7-8) dalam klasifikasi pengalaman menurut tingkat dari yang paling konkrit ke yang paling abstrak, dimana partisipasi, observasi, dan pengalaman langsung memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap pengalaman belajar yang diterima siswa. Penyampaian suatu konsep pada siswa akan tersampaikan dengan baik jika konsep tersebut mengharuskan siswa terlibat langsung didalamnya bila dibandingkan dengan konsep yang hanya melibatkan siswa untuk mengamati saja.

Berdasarkan penjelasan diatas, maka dengan penggunaan media pembelajaran diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret kepada siswa, dan dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran sebagai contoh yaitu media pembelajaran komputer interaktif.

C. Teori Pengembangan Media

Berkembangnya komunikasi elektronik, membawa perubahan-perubahan besar dalam dunia pendidikan. Satu hal yang harus dihindari yaitu anggapan bahwa kedudukan guru akan digantikan oleh alat elektronik. Dengan keberadaan komunikasi elektronik, menambah pentingnya kehadiran guru. Berubahnya fungsi guru dan peranan guru dikaitkan dengan upaya untuk memecahkan salah satu masalah pendidikan yaitu, (1) dengan membebaskan guru kelas dari kegiatan rutin yang banyak, (2) melengkapi guru dengan teknik-teknik keterampilan kualitas yang paling tinggi, (3) pengembangan penyajian kelas dengan tekanan pada pelayanan perorangan semaksimal mungkin dalam setiap mata pelajaran, (4) mengembangkan pengajaran yang terpilih didasarkan pada kemampuan individual siswa. Dari penjelasan diatas tentang peran baru guru dalam dunia pendidikan diharapkan dapat memperbaiki kualitas pendidikan, sehingga penggunaan berbagai macam media pembelajaran akan menggantikan berberapa fungsi instruksional dari guru (Sulaeman, 1988:24-25).

Pengembangan media pembelajaran didasarkan pada 3 model pengembangan yaitu model prosedural, model konseptual, dan model teoritik. Model prosedural merupakan model yang bersifat deskriptif, yaitu menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk. Model konseptual yaitu model yang bersifat analitis yang memerikan komponen-komponen produk yang akan dikembangkan serta keterkaitan antarkomponen. Sedangkan model teoritik adalah model yang menunjukkan hubungan perubahan antar peristiwa.

Berdasarkan hal yang dikemukan diatas, pengembangan media berbantuan komputer interaktif yang dikembangkan mengikuti model prosedural dari The ASSURE, dimana langkah yang harus diikuti bersifat deskriptif yang terdiri dari 6 langkah yaitu analisis karakteristik siswa, penetapan tujuan, pemilihan media dan materi, pemanfaatan materi, pengikutsertaan siswa untuk aktif dalam pembelajaran, evaluasi/revisi. Sedangkan model konseptual dari pengembangan media berbantuan komputer ini mengikuti teori belajar behavior yang dikemukakan oleh Gagne yaitu belajar yang dilakukan manusia dapat diatur dan diubah untuk mengembangkan bentuk kelakuan tertentu pada seseorang, atau mempertinggi kemampuan, atau mengubah kelakuannya (Nasution, 1988: 131), sehingga media pembelajaran yang dikembangkan berdasar pada “Programmed Instruction”. Sehubungan dengan penggunaan “Programmed Instruction”sebagai konsep media yang dikembangkan, maka teori belajar yang sesuai dengan karakter dari “Programmed Instruction” adalah teori belajar asosiasi, menyatakan bahwa hubungan antara stimulus dan respon. Hubungan tersebut akan semakin kuat apabila sering diulangi dan respon yang benar diberi pujian atau cara lain yang memberikan rasa puas dan senang (Nasution, 1988: 132).

Oleh: Kartika Laria, 2008


SENDIRI

Teman,......
sering dalam jenak kehidupan kita lupa memaknai akan kesendirian. Sering muncul keluh kesah dalam lisan kita tatkala tiada lagi saudara yang menyertai tapak kaki kita. Atau keluarnya wajah-wajah masam tatkala tiada lagi tempat berkeluh kesah, tiada lagi penampung cerita kita. Bahkan sering dengan kesendirian itu memundurkan langkah kita dari aktifitas yang selama ini kita lakukan.

Teman……
kita juga sering tiada menyadari dan mengakui nikmatnya sebuah kesendirian. Kesendirian untuk mencintai RabbNya, kesendirian dalam mengiqob diri, kesendirian untuk menangisi betapa banyak nikmat yang terlupa kita syukuri, kesendirian untuk memunguti keping-keping cintaNya yang tersebar di muka bumi.

Teman,….
Kalaulah kita mau berhenti sejenak. Menatap dan merunduki ayat-ayatnya maka akan kita temukan bahwasanya kesendirian adalah sebuah sunatullah. Kesendirian itulah yang nantinya akan menemani setiap langkah kita. Ketika kita hanya berharap akan ridho Allah, maka kesendirian itu akan bernilai. Kesendirian akan mengukur sejauh mana komitmen kita terhadap nilai-nilai syar’I yang harus kita tegakkan. Kesendirian akan mampu menjadi tolok ukur sejauh mana kita menegakkan muroqobatullah………. bahwasanya apapun yang kita lakukan Allah yang Maha Melihat, Yang Maha Mengetahui segala sesuatu akan senantiasa menilai setiap amalan kita meskipun sebesar biji dzarah.

Teman,…..
Ketika menghadap Allah pun kita tertunduk sendirian bertanggung jawab atas apa yang telah kita lakukan. Tatkala di alam kubur kita juga sendirian hanya ditemani amal-amal yang telah kita lahirkan.

Teman,..... nikmatilah kesendirian dengan cara yang benar. Nikmati dengan penuh ketundukan kepada segala aturanNya. Nikmati segala apa yang telah diberikanNya. Nikmati kesendirian dengan penuh kepasrahan dan tawakal untuk mengarungi segala skenario kehidupan yang telah diberikan oleh Rabb Pengatur hidup kita maka akan kita temukan ternyata setiap skenarionya tidak ada yang tidak bermakna.

Teman ternyata kita sendiri...

Di kuburan kita sendiri, teman kita adalah amal shalih-lah yang paling setia.

Bagaimanakah teman kita kelak?

Buruk kah?

Baek kah?

Tiap hari dosa membumbung tinggi...

'Allaahumma innii a'uudzubika min 'adzaabil qabri wamin 'adzaabinnaari wamin fitnatil mahyaa wal mamaati wamin fitnatil masiihid dajjaali' 'Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, siksa neraka, dari fitnah hidup dan mati, dan dari fitnah al-Masih Dajjal'."

Jumat, 21 November 2008

Mengandung Pesan

Dari renungan elfata, mari kita tutup kesan dengan pesan.

Mengandung Pesan

Seorang berpakaian cow boy duduk diatas kursi kayu itu. Sebatang ‘cerutu’ nangkring dibibirnya dengan penuh keangkuhan. Para pembaca segera paham bahwa sang tokoh adalah seorang bandit. Demikian promosi media massa barat pasca perang dunia 1 untuk menyudutkan cerutu. Efektif. Masyarakat telah punya gambaran bahwa cerutu identik dengan kejahatan dan kekumuhan. Tentu saja industri cerutu tidak akan tinggal diam . upaya untu mengubah opini tersebut gencar dilakukan. Berbekal dana yang tak sedikit, iklan untuk menaikkan pamor cerutu digelar. Para kameraman dan kuli tinta diberikan iming –iming uang yang banyak jika mampu menghasilkan foto-foto yang berkesan yang sedang mengisap cerutu. Foto para tokoh masyarakat tiba-tiba muncul di surat kabar dengan cerutu berkelas ditangan. Berbagai momen penting tak pernah lewat dari foto orang mengisap cerutu. Berita-berita yang terkait dengan cerutu walau sekecil apapun diekspos oleh banyak media. Dalam waktu realatif singkat cerutu yang merupakan barang haram menjadi barang wah dan elit, tak lagi identik dengan para bandit. Media massa dengan mudah mengubah opini masyarakat. Dengan menempatkan sedikit foto yang bermuatan pesan masyarakat telah mendapat kesan.
Umat islam tentu harus jeli dalam menangkap pesan yang dibawakan oleh media cetak amupun media elektronik yang ada, terlebih media yang sejak semula tak punya keberpihakan kepada ajaran islam atau umat islam.
Cobalah asah kepekaan diri ketika misalnya sebuah media cetak terkenal di negeri ini menampilkan foto para pegawai pemada Tegal yang bolos seetelah idul fitri yang lalu. Tampak jelas gambar yang diambil, seorang ibu yang berjilbab juga ikut terjaring operasi karena membolos. Apa kesan pembaca yang bisa ambil? Atau bagaimana yang tergambar dalam benak masyarakat jika foto para pelaku terror sebagiannya adalah pria berjenggot, bercelana di atas mata kaki, terlihat rajin shalat, dan istrinya bercadar?
Kesalahan memang tetap kesalahan. Membolos dari kerja adalah perbuatan salah. Namun apa yang ditangkap oleh masyarakat jika yang diekspos adalah seorang wanita yang berjilabab?
Demikian pila, perbuatan teror bom adalah kesalahan bahkan dosa yang besar karena membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah. Namun perlu diingat bahwa, bahwa jenggot, cadar, dan celana di atas mata kaki tidaklah identik dengan terror dan bom. Kesalahan orang yang melakukan terror adalah pada pemikiran dan pemahaman serta perbuatan terror yang merka lakukan bukan pada jenggot atau cadarnya. Bedakan dengan pasti. Memelihara jenggot dan menaikkan celana diatas mata kaki bagi laki-laki, serta memakai cadar bagi wanita adalah sesuatau yang ditetapkan oleh syariat islam. Sedangkan teror, pembajakan, dan perusakan adalah hal-hal yang ditentang oleh islam. So, Pandai-pandailah memilah pesan.